Berbagi = Mimpi jadi Nyata?

Posted on December 20, 2011

7


Akhir-akhir ini di twitter sering sekali melihat perbincangan tentang sedekah, ceritanya unik-unik dan tidak sedikit yang begitu menyentuh dan bikin hati ini terenyuh. Saat itu juga aku bertanya-tanya, sudah 22 tahun aku hidup, adakah momen-momen luar biasa yang mengantarkan berbagi ke pintu rahmat dan rizki, dan Alhamdulillah.. Teringatlah diriku pada suatu momen, momen yang begitu luar biasa, momen yang mengukirkan indahnya perjuangan, momen yang membernarkan janji Allah, momen yang mengantarkan berbagi ke pintu-pintu rizki diluar angan..

Sekilas info: study abroad, guru privat, cleaning service, dll.

Mungkin temen-temen bingung dengan sub-heading di atas? Ijinkan aku untuk mengenang kilas balik masa-masa kuliahku. Ya, saat itu aku memang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri sakura. Alhamdulillah diriku berangkat dengan beasiswa untuk biaya kuliah, namun tidak untuk biaya hidup. Tahun 2007 bulan Agustus, dengan modal dukungan hanya dari Ibu, doa, kemampuan bahasa yang pas-pasan dan segenggam impian, kubulatkan diriku untuk memulai perjuanganku disana. Setelahnya sampai disana, aku berdoa, “Ya Allah, ijinkanlah hambaMu ini untuk bisa membiayai kuliah disini, paling ngga biaya hidupnya ya Allah.” Begitulah kira2 doa yang terucap dalam setiap shalatku. J Tentunya kuimbangi dengan usaha, selama 2 tahun pertama disana, aku berlari keras mencari, mengambil, dan menjalani setiap peluang yang ada dimana aku bisa menambah pengalaman dan tentunya menghasilkan. Ya, aku disana kerja part-time, berbagai macam pekerjaan aku jalani. Mulai dari guru private, nari, petani, sampai tukang bersih-bersih pun tak jalani, hehe. Satu kata, Alhamdulillah, Alhamdulillah telah di beri kesempatan untuk merasakan itu semua. Seru juga kalau dinget-inget, pas jadi petani selama kurang lebih 3 minggu, ketika kita panen tumbuhan yang merambat, hampir setiap 10-15 menit sekali tangan-tangan ini menyentuh ulat, dan seketika itu juga jeritan kecil kami berkicau, mulai dari diriku, lalu sahabat2ku.. saat itu juga saat pertama kalinya diriku menikmati keindahan salju. Sebutir demi sebutir salju, turun perlahan, perlahan, begitu indahnya hingga rasa menggigil kedinginan pun terlupa sejenak.  Ya, begitulah sekiranya gambaran kehidupanku selama 2 tahun pertama kuliah disana, menyibukkan diri dengan kegiatan belajar sambil berusaha mewujudkan citaku untuk bisa membiayai hidup di sana dengan usahaku.

Bersama teman-teman di perkebunan

Bencana di Haiti: Hati yang tersentuh, mata yang terbuka

Januari 2010, mungkin masih fresh di ingatan temen-temen semua. Saat itu gempa bumi yang luar biasa menimpa Haiti, begitu banyak sahabat-sahabat kita yang kehilangan hidupnya, begitu banyak anak-anak kecil nan lugu yang tak banyak pilihan tetapi lanjut dengan kehidupan tanpa orang tuanya. Ya, ketika itu hatiku tersentuh, mataku terbuka, bahwa kata syukur sepantasnya terucap dalam setiap nafasku, bahwa kata terimakasih kepada sang Khalik sepantasnya terucap dalam setiap hariku. Karna hingga detik ini, aku masih hidup dengan cinta, cinta dari bapak-ibu, cinta dari sahabat-sahabat, aku masih bisa menikmati indahnya butiran salju, aku masih bisa… Sudah, kalau diterusin nanti mewek lagi, hehe.. Intinya, diri yang saat itu kalau bahasa kerennya sedang di lowest point karna berbagai pelik hidup mulai dari lelah par-time, capek belajar, putus cinta (alah curcol, haha), akhirnya tersadar, akhirnya mata ini terbuka lebar. I am not the only who is suffering, in fact, I am fortunate enough for the life I have had till now. Tergeraklah hati ini untuk berbagi, setiap kali nonton video2 berita online, ingin sekali rasanya terbang kesana jadi volunteer, tapi masalahnya ndak ada dana, boro2 untuk terbang, untuk hidup aja masih bergantung dengan orang-tua.  Tapi Alhamdulillah, saat itu ada beberapa temen-temen yang sedang menggalang dan untuk charity buat Haiti. Percaya ngga percaya, kesempatan inilah yang kusebut-sebut sebagai momen yang super luar biasanya, momen yang ngga bisa dijelaskan dengan kata perkata. Ya, masih teringat jelas, saat itu di depan kantin, sederetan teman-teman kampus ku dengan boxnya menyerukan “Love for Haiti”, diriku sehabis lunch dan sedang di tengah perjalanan menuju ke kelas berhenti sejenak, kukeluarkanlah dompetku, dan melihat aku disana punya 3000 yen kalau ngga salah (kira2 kalau di kurs sekitar 300rb), dan itu lah lembar-lembar terakhir yang ada di dompetku. Tanpa berpikir panjang, tanpa mikir weekend ini ntar makan apa, hehe.. Langsung lah aku cemplungkan itu semua. Niatku cuma satu, ya Allah mudah-mudahan ini bisa membawa manfaat bagi sahabat-sahabatku disana, kuatkanlah mereka, yakinkanlah mereka bahwa kami ada untuk berbagi.

Aplikasi Beasiswa

Ceritanya, saat itu aku sedang proses apply beasiswa, beasiswa yang besarnya kira-kira cukup untuk biaya hidup, malah bisa untuk nabung. Tapi ini pertama kalinya aku apply beasiswa yang semuanya dalam bahasa jepang, mulai dari formulir, essay, sampai interview. Deg-degannya poll-lah sudah. Hehe.. Tapi ya apa mau dikata, salah satu prinsip hidupku, ga usah pusing dengan hasil, pentingkan usaha, majukan doa, hasil urusan Allah. ;)

Alhamdulillah urusan dilancarkan, mulai dari tulis essay dimana aku dibantu oleh sahabatku yang orang sana asli, lalu interview dengan pertanyaan-pertanyaan yang kebetulan jawabannya selalu ada di kepalaku, hehe habis ditanya mimpinya apa, ya Alhamdulillah bisa ya. Akhirnya aku dan 4 orang temanku lulus seleksi tahap kampus, artinya aplikasi kami akan diteruskan ke tingkat nasional dan diseleksi langsung dengan perusahaan yang memberi beasiswa. Dan di seleksi tahap akhir ini, tidak ada guarantee 100% kelima-limanya dari kami akan lolos. Deg-deganlah lagi, karna pengumumannya 2 bulan setelahnya which is bulan Maret akhir kalau ngga salah.

Menunggu-menunggu dan menunggu.. Itu saja yang ada dipikiranku saat itu. 2 minggu sebelum pengumuman diriku jatuh sakit, dan harus tinggal di rs selama sepuluh hari. Dan surprisingly, saat itu aku dapat telepon dan ndilalahnya ko ternyata telponnya dari perusahaan itu. Mereka ingin interview mengenai beasiswa, tapi apa boleh dikata, karna sakitnya cukup berat, aku cuma bisa pasrah dan bilang, maaf saya sedang dirumah sakit dan tidak mampu untuk bicara, bolehkah interviewnya ditunda setelah saya sembuh? Mereka tidak bisa kasih janji, akhirnya saat itu juga aku ambil kesimpulan (ga boleh sih ya sebenernya suudzon gini, hehe), aku bilang ke mama, ma maaf ya kayaknya kali ini gagal deh, soalnya tadi telponnya tentang beasiswa itu. Mamaku seperti biasanya, sebagai supporter terbesar dalam hidupku, beliau bilang, “ya sudah de gapapa, hasilnya masih nanti kan? Yang penting sekarang sembuh dulu, doanya terus”.

Namun, momen itu ternyata benar-benar datang, percaya ga percaya, I got this through! I passed the selection! I have just officially become the recipient of this year scholarship! Alhamdulillah Ya Rabb..

Ketika Berbagi mengantarkanku pada citaku

Bersama-sama dengan para penerima beasiswa dari seluruh penjuru Jepang

Pepatah yang mengatakan bahwa semua itu ada saatnya, semua itu akan indah pada waktunya itu benar.. cita-citaku akhirnya tercapai, harapanku untuk tidak membebani orang tuaku dengan biaya hidup disini akhirnya tercapai!!

Akhirnya, tangis lelahku terbalaskan, butiran doaku dan doa kedua orang tuaku terjawabkan. Pertanyaannya, apakah ini terwujud semata-mata akan kerja kerasku? Semata-mata akan doaku? Atau semata-mata akan keberuntunganku?

Jawabannya BIG NO! Ingat ceritaku tentang lembaran2 terakhir dari dompetku untuk Haiti? Ya, aku percaya ini semua terjadi karna aku telah berbagi. Karna aku saat itu telah menjalani kewajiban seorang muslim untuk berbagi. Dan lihat apa yang terjadi, Allah memang tidak pernah ingkar akan janjinya, sedekahku yang hanya 3,000 yen dibalasnya dengan beasiswa 125,000 yen per bulan (selama 1,5 tahun). Kira-kira kalau dihitung totalnya 234 juta! Mau tahu berapa kali-lipat dari apa yang sudah kuikhlaskan untuk berbagi? Total 78,000x lipat kawan! Allah Maha Besar..

Intinya, bermimpi, berjuang, berdoa, berbagi, maka mimpimu akan jadi nyata, insya Allah!

Salam hangat,

virgi agita

Advertisement
Posted in: personal life