The Art of a Dialogue (Seni Bicara)

Posted on December 11, 2009

6


Terinspirasi dari a short high-tense debate dengan teman di pagi hari ini, kali ini ingin share tentang seni berbicara atau seni berdebat.
Kalau berbicara tentang seni, yang terpikirkan mungkin ya seni lukis, seni rupa, seni tari, dsb.Tapi ternyata dalam berbicara pun ada seninya ya. Ketika sedang berbincang-bincang dengan teman, pernah ga merasakan amarah ketika pendapat kita ditentang? Atau, pernah ga merasakan sesak di dada ketika sedang beradu pendapat, dan merasa, “duh ni orang kenapa si sewot banget?” “kapan ngertinya ya?”
Kalau pernah, mungkin saat itu kita, lawan bicara kita, atau keduanya, belum mahir akan seni dalam berbicara. Tentunya banyak aspek ya tentang seni bicara, seperti santun, menjaga sikap dan level suara, dsb. Tetapi sejauh ini yang saya pahami, menghormati dan menghargai lawan bicara kita itu adalah yang penting dari seni bicara. Mungkin tedengar lebih ke arah sikap dibanding seni, tapi sudah teruji sepertinya bahwa pada akhirnya, ketika kita bebicara kepada teman, dengan membawa niat untuk menghargai dan menghormati lawan bicara kita, pada akhirnya itu akan membawa kekuatan tersendiri untuk mengontrol gaya bicara kita.
Contoh praktikalnya, misal ada teman kita yang sedang mengshare keinginnannya untuk membuat sebuah projek di kampus dan ia menanyakan pendapatnya ke kita. Dan kita tidak setuju pada dasarnya, karna beberapa hal. Tapi apakah baik kalau kita bereaksi??
“Ah, apa itu?? Ngga bagus sama sekali. Tuh program kan dah ada di kampus..!
Apa bedanya program itu dengan program A, B, C, dst..”
*baca dengan high-tense
Gimana reaksi lawan bicara kita tentunya?? Ya pasti kesel juga lah ya, dan kemungkinan terburuknya malah terjadi percekcokan. Akan tetapi, kalau dari kitanya, sebelum bicara, sudah ada niat, saya berbicara untuk menghormati dan menghargai teman saya, pasti reaksi kita berubah menjadi,
“Oh gitu ya. Wah menarik ya idenya. Mungkin bisa juga di praktikan. Tapi sebelum itu, kita disini juga punya program2 yang sepertinya sama kan ya, gimana kalau coba further research dulu tntg itu?”
Kalau begini, saya yakin lawan bicara kita pun akan menghargai kita, dan tidak terjadi deh percekcokan itu.
Ide ini juga ditegaskan sama Pak Mario Teguh di salah satu sesinya,
“Ketika berbicara, berbicaralah untuk meninggikan nilai orang lain, karena meninggikan nilai kita adalah urusan Tuhan” (Mario Teguh, 2009)
Sekian dulu sharingnya, insya Allah, pengalaman2 kedepannya mengenai hal ini akan sy sharing lagi dengan teman. Jangan lupa, seni bicara, hargai dan hormati lawan bicara, maka harmoni akan terlaksana. 

Advertisement
Tagged:
Posted in: Uncategorized